Bapakku pernah bilang yang ditambah Tuhan itu tak selalu uangmu. Bisa jadi justru rasa cukupmu. Uangmu, gajimu, karirmu memang segitu-gitu aja. Tapi bisa jadi cuma makan dengan lauk orek tempe dan sayur sop pun kamu sudah merasa cukup. Kata bapak itulah berkah, tidak menambah jumlah tapi menambah rasa cukup. Dan sekali lagi bapak benar. Dulu segala gelora impulsifku harus selalu terpenuhi asupannya. Kini, seperlunya saja ternyata juga cukup. Duniaku mungkin masih gitu-gitu aja, tapi terasa entah kenapa saat ini terasa cukup. Aku bahkan mulai acuh dengan segala ambisi validasi. Aku juga tak lagi iri dengan segala pencapaian orang lain. Jalan hidup baru yang mulai kujalani empat bulan lalu ternyata tidak terlalu buruk. Aku justru kagum dengan diriku sendiri. Oh.. sekali lagi aku bisa bilang ya semua akan reda juga kan?Aku mulai menormalisasikan untuk biasa saja di setiap hal. Aku hidup seolah tidak punya tempat istimewa di hati manusia manapun.
Tahun ini memang penuh cerita. Ada bagian manisnya, banyak juga bagian babak belurnya. Semuanya berkesan terutama bagaiman cara Tuhan membuatku tetap berdiri. Setiap aku hampir menyerah tiba-tiba ada kekuatan sunyi dengan tanganNya menahanku untuk tidak jatuh.
Aku baru tahu, bertahan itu ternyata bisa jadi mukjizat.
Hidup bukan melulu tentang perlombaan, aku harus cepat biar bisa menang. Padahal tak ada aba-aba dan arah yang jelas. Jadi aku memilih berlari perlahan agar tetap utuh dan bisa bernafas tanpa tergesa.
Sambil berharap doa-doa yang kulepas digengam baik oleh langit dan menemukan pintu yang tak salah arah. Apapun yang dipilih hidup kemana pun ia membawa langkahku, biarlah semua berakhir di tempat yang paling baik. Kalau kata kakakku, "Allah Tahu Apa yang Baik untuk Kita. Kalau belum dikabulkan yang berarti itu belum baik untuk kita saat ini" Terkadang Allah menunda terkabulkannya doa untuk membuat hatimu bergantung lagi padaNya. Meski belum tahu apa alasannya sekarang. Tapi sebagai manusia akau hanya perlu ingat pasti Siapa yang akan menyelesaikannya untukku. Pada akhirnya segala yang berat pun akan terlewati. Hujan sederas apapun juga punya waktunya untuk reda dan membiarkan tanah yang rapuh untuk belajar kering kembali. Itulah tawakal. "Jangan takut sesungguhnya Aku bersama kalian; Aku mendengar dan Aku melihat." (Qur'an 20:46)
Hidup ya memang seperti itu. Kelas terbuka untuk melukai tanpa sengaja sekaligus terluka tanpa sempat bersiap. Aku mungkin bisa tersesat, salah membaca arah atau gagal memahami diri sendiri juga hati orang lain. Seringkali terlalu sibuk menjadi hebat hingga lupa bertanya kepada hati "Apakah aku masih punya ruang untuk bernafas?" Padahal ada akhirnya itulah yang membuat hidup jadi lebih berharga. Nikmat itu justru lahir bukan dari banyak tapi karena ada batasnya. Rasa bahagia itu ternyata bukan dari tingginya pencapaian, tapi seberapa rasionalnya sebuah harapan. Dunia memang tidak akan pernah ideal, bahkan untuk manusia yang paling tercinta di sisi Allah pun dunia tidak pernah ideal. Jadi bagaimana aku ingin duniaku selalu ideal. Pasti diuji.
Jadi izinkan aku sampai pada tujuan itu Allah. Bukan untuk menang, tapi tenang.
Hi 2026.. Sehat, panjang umur, kayaraya, bahagia dunia sampai di surga.
Aamiin ya rabbal alamin.
Komentar
Posting Komentar