Bapakku pernah bilang yang ditambah Tuhan itu tak selalu uangmu. Bisa jadi justru rasa cukupmu. Uangmu, gajimu, karirmu memang segitu-gitu aja. Tapi bisa jadi cuma makan dengan lauk orek tempe dan sayur sop pun kamu sudah merasa cukup. Kata bapak itulah berkah, tidak menambah jumlah tapi menambah rasa cukup. Dan sekali lagi bapak benar. Dulu segala gelora impulsifku harus selalu terpenuhi asupannya. Kini, seperlunya saja ternyata juga cukup. Duniaku mungkin masih gitu-gitu aja, tapi terasa entah kenapa saat ini terasa cukup. Aku bahkan mulai acuh dengan segala ambisi validasi. Aku juga tak lagi iri dengan segala pencapaian orang lain. Jalan hidup baru yang mulai kujalani empat bulan lalu ternyata tidak terlalu buruk. Aku justru kagum dengan diriku sendiri. Oh.. sekali lagi aku bisa bilang ya semua akan reda juga kan? Aku mulai menormalisasikan untuk biasa saja di setiap hal. Aku hidup seolah tidak punya tempat istimewa di hati manusia manapun. ...
Setiap pilihan pasti ada resikonya. Karena tidak memilih pun juga ada resikonya. Tapi aku selalu yakin semua manusia beruntung dengan caranya masing-masing. Ada yang diberi rezeki, ada yang diberi waktu. Ada yang jalannya lancar. ada yang hatinya dikuatkan. Meski tidak semua bahagia bisa ditiru begitu juga luka tak harus selalu dibandingkan.
Halo September.. Terima kasih kuucapkan kepada diriku karena sudah mau bertahan sejauh ini. Setelah Melewati delapan bulan yang banyak gebrakannya. Menjalani hidup seperti baterai 1% yang terus dipaksa nyala. Tidak sedih, tidak juga bahagia. Kadang ingin marah, tapi tak tahu siapa yang pantas dimaki. Bersyukur ternyata semua tak seburuk yang aku bayangkan. Aku lepaskan semua yang bukan milikku. Tak perlu berpegangan pada sesuatu yang hanya memberatkan langkahku. Soal mengejar aku tak perlu diajari. Bahkan yang berjalan menjauh tak juga aku lewati. Di tengah sejuta ragu aku tetap melangkah, meski lututku gemetar, ketakutan menyergap, dan nyaliku tinggal separuh. Sebab yang bukan milikku, akan tetap pergi meski kugenggam dengan seluruh napas yang ada, Dan aku disini memilih untuk berdamai. Meski ada harga mahal yang harus kubayar. Tak Apa. Setiap pilihan pasti ada resikonya. Karena tidak memilih pun juga ada resikonya. Tapi aku selalu yakin semua manusia beru...