Langsung ke konten utama

Kuceritakan kepadamu, hidupku baik-baik saja. Sesekali asam lambungku memang masih sering kambuh. Tapi aman. Aku sudah mahir bagaimana cara untuk mengatasinya...

Hi lelaki penyuka kebab. Aku rindu. Kalau rindu ini bisa diuangkan mungkin aku akan kaya raya.
Aku rindu mengajakmu ribut, melihatmu kebingungan membujukku bila tantrumku kambuh,  rindu obrolan tak penting kita dan bagaimana caramu meredam segala emosi yang ada di dadaku. Aku rindu caramu mencintaiku sebagaimana aku, diriku sendiri. Rindu mendengar cerita dan mimpi-mimpimu yang tidak pernah membuatku bosan. Kehadiramu (meski kadang menyebalkan) selalu membuatku bahagia. 

Beberapa hari lalu aku berulang tahun. Apa kau masih mengingatnya?Mungkin tidak ya?Aku juga tidak berharap, jangan khawatir.

Sempat terbersit keinginan untuk menghubungimu. Tapi niat itu akhirnya kuurungkan, aku masih orang yang sama, yang kau tinggalkan beberapa tahun lalu. Pantang bagiku menghalangi orang yang sudah pergi apalagi mencarinya dan berkata : " Aku Rindu". Karena aku lebih baik menahan rinduku sampai mati daripada harus mengatakannya kepadamu. Tapi tetap kutulis catatan ini untukmu, agar kau tahu bila suatu hari kau singgah lagi di sini dan membacanya. Bukan untuk berharap apa-apa, aku hanya ingin melegakan perasaan dan meredam berisiknya isi kepalaku.

Tuan, kuharap kau bahagia sekarang. Aku akan datang membunuhmu kalau sampai hidupmu tak menjadi lebih baik dari ketika kau pamit pergi. Waktu itu kau bilang ingin pergi supaya aku tak lelah menjagamu yang tak pernah sampai. Katamu, aku harus menemukan rumah yang akan menjagaku, memilihku tanpa jeda, yang tak akan menyimpanku di sela-sela ragu dan bisa memperjuangkan aku tanpa syarat bukan malah menitipkanku pada waktu yang tidak pernah  diniati. 

Tuan, kau harus tetap hidup,  dengan banyak senang yang menghampiri. Dia (perempuan itu) harus bisa menjadi rumah bagimu, tempatmu pulang tanpa harus takut jadi berantakan. Dia juga harus tahu, saat kau sedang tidak baik-baik saja tanpa perlu ditanya dia akan selalu menyiapkan bahunya untukmu. Sehingga kamu tidak perlu pura-pura kuat, hanya untuk tidak ditinggalkan. 

Kuceritakan kepadamu, hidupku baik-baik saja. Sesekali asam lambungku memang masih sering kambuh. Tapi aman. Aku sudah mahir bagaimana cara untuk mengatasinya. Kalau dulu kambuh karena sebal padamu yang terlalu sibuk dan kuanggap tak pernah mengusahakan aku. Sekarang aku tak punya lagi 'kambing hitam'. Lagipula aku sudah tidak punya energi lagi untuk mencintai seseorang. Hatiku tidak kututup hanya saja tak pernah ada yang berani masuk. Kata mereka aku terlalu rumit. Bahkan diriku sendiri tak mampu memahamiku?Apakah kau dulu juga merasakannya? Tapi ruang-ruang yang dulu pernah kusiapkan untukmu masih rapi. Jendelanya juga masih terbuka lebar, sudut-sudut yang retak juga sudah kutata ulang. Bersiap mungkin suatu saat nanti kau akan menetap. Entah kapan?Mungkin juga tidak akan pernah. 

Kau tahu? aku sempat berbincang dengan Tuhan, apabila ia memperkenankan aku untuk jatuh cinta lagi. Aku mau itu kamu dengan versi yang lebih baik dari setiap segi terutama yang begitu melukaiku.
Tidak, aku tetap mencintaimu apa adanya, segenap dengan jelagamu, sepaket dengan suka dan dukamu, badai juga petirnya, kesialan pun keberuntunganmu. Semua kurangmu yang tampak atau mungkin masih kau sembunyikan dariku tidak akan membuatku pergi. Tidak dulu (sebelum kau memutuskan pergi) atau bahkan sekarang. Aku selalu mencintaimu, namun kali ini kuajarkan cintaku dengan adab yang tinggi, tenang dan tak gaduh. Tak apa bila ada laut yang harus kupendam dan kutenangkan deru ombaknya sebagai sebab akibatnya. 

Kuharap ini tidak merepotkanmu karena aku pun tidak memaksa. 
Aku mencintaimu tanpa perlu merasa berhak untuk meminta apa-apa bahkan untuk dicintai kembali. Sekali lagi, cinta ini biar saja menjadi urusanku sendiri. Akan kucintai kau sampai habis rasa yang dianugerahi Tuhan untukku. Selamanya kau tidak akan pernah kubenci, semua maaf untuk apa yang sudah kau lakukan kepadaku sudah kupulangkan. Biar tidak ada lagi sangkut paut yang memberatkan langkah kita. Aku ingin melanjutkan hidupku, tanpa perlu melihatmu jatuh. Supaya tidak ada bahagiaku yang dibangun di atas penderitaanmu. 

Puthut EA dalam bukunya "Laki-laki yang keluar dari rumah" menulis : Cinta ya cinta, menikah ya menikah. Hanya orang yang beruntung yang saling mencintai kemudian menikah. Akankah kita menjadi yang beruntung itu?


Note: Bila kau sudah membaca ini berilah aku tanda agar aku tahu bila kau masih hidup. 
Surabaya, Akhir April 2026
Beberapa Hari Mendadak Rindu Padamu.









Komentar

Postingan populer dari blog ini

doa itu adalah benda, yaitu gelombang energi quantum yang disebut pikiran dan perasaan dan keduanya merupakan kata benda...

....Aku dekat..Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku (QS.Al Baqarah :186) Saya sering bertanya dalam hati, kenapa kita harus repot berdoa dan dalam doa itu kita menjelaskan pada Tuhan apa yang kita mau? Bukankah Tuhan Mahatahu? Seharusnya aktivitas berdoa itu tidak perlu ada, karena tanpa kita berdoa meminta sesuatu, Tuhan sudah tahu apa yang kita inginkan. Sesederhana itu kan?  Seorang sahabat yang pernah saya ajak diskusi mengenai hal ini menertawakan dan mengatakan saya mungkin sudah gila karena telah mempertanyakan doa. Menurutnya mempertanyakan doa sama dengan mempertanyakan keberadaan Tuhan. Saya mau jadi atheis, begitu tuduhnya. Seolah tak ingin saya jadi ‘tersesat’ sahabat saya itu lantas menjelaskan, doa itu cara manusia ‘bermesraan’ dengan Tuhannya. Sekaligus aktivitas yang mengingatkan manusia bahwa dia hanyalah hamba yang penuh kelemahan dan kepada Tuhan kemudian dia meminta kekuatan. Tapi ‘penasaran’ saya tentang doa tak juga...

Kuberikan seluruh cintaku. Bukan separuh, bukan serpihan, bukan sebagian, bukan sisa, tapi semuanya. Namun cintamu tumbuh tak seperti yang kutanam. Daunmu mengarah ke matahari lain dan bungamu mekar di musim yang tak pernah aku punya...

       Ada banyak hal yang terjadi dan harus diterima siap atau tidak. Awalnya ada rasa marah dan mempertanyakan. Kemudian aku sadar tidak semua patah butuh tangan lain untuk pulih. Cukup saling tahu dengan diam agar luka itu terasa lebih ringan.         Tak juga perlu menjadi Sore yang menembus ruang waktu merubah takdir dan masa lalu. Pertama aku tak punya Jonathan yang akhirnya karena begitu mencintai Sore sehingga dia mau berubah. Kedua, bukan aku yang dia pilih, jadi mau diulang berapa kalipun juga tidak ada gunanya.         Tapi kebanyakan dari kita (mungkin) adalah Sore. Kalau lagi jatuh cinta, ga peduli sebanyak apa kesempatan dipake untuk memperbaiki sesuatu yang ga tau akan berhasil kapan?Tapi terus saja diusahakan untuk bisa terus  bersatu dengan orang yang dicintai. Walau energi bahkan sudah habis. Seperti aku, berulangkali diabaikan dan tidak dianggap berarti tetap saja tidak menyerah. Padahal aku ti...