Kembali berjumpa dengan 29 November di tahun 2022, yang malamnya biasa kuhabiskan untuk menyusun doa-doa terbaik untuk kupanjatkan kepada Tuhan. Doa itu untukmu yang kusebut saja 'Lelaki Penyuka Kebab'.
Ini tahun keempat rupanya. Entah seperti apa biasanya kau habiskan momen perayaan hari kelahiranmu?Katamu peristiwa seperti ini hanya picisan.
Kau tidak terbiasa mengistimewakannya?
Tapi mungkin saja di sana ada yang membuatnya spesial untukmu. Seperti yang selalu aku ingin lakukan.
Kudoakan kamu akan tetap menjadi kamu, tapi dengan versi yang lebih baik setiap hari. Mungkin perjalanan ke depan juga tidak selalu mudah. Namun aku yakin, apapun takdir yang terjadi dalam hidupmu kamu dapat melewatinya dengan pilihan-pilihan terbaik. Selalu ada pelangi setelah hujan badai, dan begitu sebaliknya. Belajarlah untuk lebih dewasa dalam bersikap. Tidak semuanya harus terjadi seperti yang kau inginkan.
Hidup ya seperti ini, harus sering kompromi agar beberapa hal lebih mudah untuk dijalani.
Kudoakan pula Allah selalu menjagamu dari hal-hal buruk. Ketika kau tersesat, Allah akan selalu menuntunmu kembali. Percayalah, dari sekian banyak cinta, hanya cintaNya yang tidak mengecewakan. Meski sebagai manusia, sering lupa akan itu.
Jangan lupa jaga kesehatan ya, kamu harus ada dan sehat saat semua mimpimu terwujudkan Ada mama dan papa juga yang selalu ingin kau bahagiakan, serta orang-orang yang kau sayangi. Semoga hal-hal yang sedang kamu usahakan akan terwujud seperti yang kau inginkan.
Semoga pada letihmu,
Kamu juga selalu punya rumah menyejukkan untuk pulang.
Genggaman paling menguatkan,
Pelukan paling menenangkan,
dan,
Sandaran yang selalu membuat nyaman.
Jangan lupa berbahagia untuk dirimu sendiri.
Jangan hiraukan perjalanan kita yang masih abu-abu. Entah akan berakhir bahagia atau hanya memberi 'pelajaran'?
Biarlah ini menjadi urusanku.
Entah apa yang membuatku bertahan, menunggumu yang bahkan tak pernah beranjak.
Namun aku menikmatinya. Padahal aku tahu di akhirnya banyak duri yang akan melukai.
Ada yang bilang, Allah akan mempersatukan dua orang yang terpisah oleh jarak dan waktu, setelah keduanya merasakan sesak di dada dan hampir menyerah.
Benarkah? Atau mungkin aku yang seharusnya sadar semua ini fana, ucapan-ucapanmu hanya sekedar kalimat pemanis. Kamu dan kita hanya seperti fatamorgana terlihat indah dari jauh,
tapi begitu kudekati semuanya kosong.
Kau tahu?
Titik terlelah mencintai adalah ketika seseorang berdoa kepada Tuhannya, bukan lagi tentang bagaimana cara mempertahankan, melainkan cara mengiklaskannya. Sepertinya, kini aku mulai harus mencobanya.
Aku harus berdamai dengan apa yang kurasa. Sejak awal mencintaimu bukan perihal mengambil yang kutebar. Telah kusiapkan segala patah. Aku berada dalam level ikhlas.
Aku berdamai dengan segala apa yang kurasa.
Aku mencintaimu, dengan segala patuh, kepada harap Tuhan.Sungguh, aku mencintaimu tidak dengan paksaan, “bahwa aku harus memilikimu”.
Kubiarkan ketulusan yang tak sepatutnya sia-sia ini terkurung dalam diam yang terlalu, dalam ikhlas yang terlampau sungguh.
Mungkin juga ini bisa menjadi tulisan terakhirku tentangmu di malam 29 November,
karena tahun depan aku bisa jadi menulisnya di tanggal yang lain, untuk nama yang lain.
Kenapa?
Karena yang tak terbatas itu hanya Tuhan.
Kan bisa maksa.
Memang enak dipaksa?
Serta Mulia, panjang umurnya, damai sentosa kita (meski mungkin tak) bersama.
Surabaya 30 November 2022 lebih 1 Detik,
Dari Perempuan yang Tak Pernah Kau Jadikan Satu-Satunya.
Komentar
Posting Komentar